Kenaikan PPN & Inflasi Tantangan Ekstra Sektor Properti
02 June 2022
Selasa, 31 Mei 2022 | 18:57 WIB
Imam Muzakir
JAKARTA, investor.id – Konsultan properti Colliers Indonesia menilai, kenaikan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) sebesar 11 % dan inflasi serta kenaikan suku bunga, menjadi tantangan bagi sektor properti kedepan.
Senior Associate Director Colliers Indonesia Ferry Salanto mengungkapkan, tahun lalu sebetulnya merupakan periode yang cukup baik untuk pasar properti, terutama untuk sektor residensial. Insentif yang menarik dinilai menguntungkan dalam membangkitkan semangat pembelian properti di tengah kondisi yang tidak stabil.
Menurutnya, kenaikan PPN menjadi 11% mulai April lalu akan mempengaruhi berbagai aspek pada pasar, terutama terhadap daya beli masyarakat. Di tengah kondisi ekonomi yang lamban dan masih dalam proses untuk pulih, daya beli masyarakat belum sepenuhnya kembali.
“Kenaikan PPN ditambah dengan beberapa kenaikan lainnya, seperti tarif dasar listrik dan BBM secara bersamaan dalam periode waktu yang cukup singkat, jelas berdampak pada dunia usaha dan konsumsi masyarakat pada umumnya. Kenaikan PPN akan menjadi tantangan ekstra bagi sektor property,” kata Ferry Salanto, dalam keterangannya, Selasa (31/5/2022).
Ferry mengatakan, terdapat korelasi kuat antara pertumbuhan Produk domestik bruto PDB dan penyerapan properti. Keputusan untuk membeli atau berinvestasi pada properti kemungkinan akan tertunda dalam waktu dekat karena melemahnya daya beli dan lesunya momentum investasi di kalangan investor properti.
“Bagi pembeli tipe investor, ekspektasi atas potensi imbal hasil properti merupakan pertimbangan utama saat membeli property,” katanya.
Selain faktor kenaikan PPN, terdapat juga faktor eksternal lain yang dapat menjadi tantangan bagi pertumbuhan sektor property, salah satunya adalah inflasi yang melonjak. Jika inflasi naik, kemungkinan besar suku bunga juga akan menyesuaikan, sehingga akan menambah tekanan pada industri properti.
Secara umum, dampak di semua sektor, baik perumahan, perkantoran, ritel, maupun industri, semua terlihat sama. Namun, siklusnya agak berbeda untuk setiap sektor.
Satu sektor mungkin telah melewati bagian terendah dalam siklus, sementara yang lain masih membutuhkan waktu untuk pulih atau bangkit. Secara keseluruhan, bisnis properti adalah tentang siklus, dengan sebagian besar sektor telah mencapai titik terendah dan diharapkan mencapai posisi yang lebih positif.
Pada sektor perkantoran, Colliers masih melihat adanya perlambatan, sehingga ada kemungkinan tahun ini posisi ‘Jam’ masih berada pada angka enam dan membutuhkan waktu pemulihan yang sedikit lebih lama dibandingkan sektor lainnya.
Industri perhotelan telah menunjukkan peningkatan bertahap, terutama pada tingkat hunian, namun begitu masih menghadapi sejumlah tantangan ke depan.
“Kami tetap melihat pandangan yang positif untuk sektor residensial mengingat insentif PPN yang sedang berjalan. Jika hal ini bisa diperpanjang, pasar residensial akan melanjutkan momentum kenaikannya, terutama pada kelas bawah ke menengah,” ujarnya.
Pengurangan jumlah pengunjung (terutama yang dikarenakan kebijakan pembatasan pergerakan manusia) di dalam mal telah menyebabkan penurunan okupansi.
Lebih lanjut, kenaikan PPN akan menambah tekanan bagi pemilik dan retailer karena harga barang yang dijual akan dikenakan biaya tambahan. Penambahan PPN tersebut akan tercermin pada harga barang, dan menjadi beban tambahan baik bagi pemilik maupun penyewa karena transaksi antara pihak-pihak tersebut juga akan dikenakan PPN.
Meski demikian, lanjut Ferry, pihaknya masih optimis bahwa pasar properti akan tetap stabil meski masih menghadapi tantangan.
“Kami masih optimis sejauh ini. Ini semua kembali lagi mengenai siklus. Kami berpendapat bahwa kebijakan yang menambah beban pemulihan mungkin dapat ditinjau kembali kedepannya, terutama ketika situasi ekonomi menjadi lebih menantang,” jelasnya.
Saat ini yang terpenting adalah menyesuaikan dengan kemampuan, selera dan kebutuhan pasar yang ada. Mungkin kaitannya tidak hanya dengan produk saja, melainkan bisa juga dalam hal pembayaran, atau dengan penawaran lain yang dapat diberikan ke pasar.
Melihat kondisi pasar saat ini, hal penting lainnya adalah tidak terlalu fokus pada perolehan margin yang besar, melainkan lebih memperhatikan penyerapan produk yang sudah ada.