Ekspor Tekstil RI Diprediksi Tumbuh 3,2%, Ada Tekanan Vietnam-China

31 July 2026

Andi Hidayat – detikFinance

Jumat, 31 Jul 2026

Detik –

Indonesia Eximbank Institute mencatat pemulihan permintaan global terhadap produk hulu tekstil sepanjang 2025. Permintaan global umumnya meningkat pada sejumlah produk hulu tekstil seperti benang, kain tenun, hingga kain rajut.

Sementara pada 2026, ekspor tekstil nasional diperkirakan tumbuh sekitar 2-3,2% dengan melihat realisasi pertumbuhan ekspor saat ini di level 1,3%. Kinerja ekspor ini disebut dapat tetap solid hingga tahun 2027 yang diperkirakan tumbuh hingga 3,5-4,0%.

Hal ini menunjukkan industri tekstil nasional masih punya peluang besar untuk memperluas pasar ekspor. Namun, ekspor Indonesia masih tertekan oleh persaingan dari China, India, dan Vietnam.

Sebagai langkah mendorong daya saing, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) menggelar LPEI Export Forum (LEF) Bandung untuk mempertemukan seluruh stakeholder industri tekstil dan garmen di akhir Juli 2026. Forum ini digelar untuk membahas prospek pasar global sekaligus strategi memperkuat daya saing ekspor Indonesia.

Direktur Pelaksana Bisnis I LPEI, Anton Herdianto, mengatakan daya saing ekspor tekstil Indonesia saat ini ditopang oleh produk finished fabric yang porsinya mencapai sekitar 74% dari total ekspor TPT nasional. Menurutnya, keberlanjutan kinerja ekspor tidak hanya ditentukan oleh produsen garmen, tetapi juga oleh kekuatan seluruh rantai pasok industri.

“Buyer global kini tidak hanya mempertimbangkan harga yang kompetitif, tetapi juga kualitas produk, ketepatan pengiriman, traceability, kepatuhan terhadap standar internasional, hingga penggunaan material yang berkelanjutan. Karena itu, penguatan rantai pasok menjadi kunci untuk menjaga daya saing ekspor Indonesia,” ujar Anton dalam keterangan tertulis, Jumat (31/7/2026).

Anton menilai, Indonesia memiliki modal kuat untuk terus tumbuh, lantaran memiliki keunggulan dari sisi biaya tenaga kerja yang kompetitif dan struktur industri yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Namun begitu, industri perlu meningkatkan produktivitas, modernisasi, dan memenuhi standar keberlanjutan yang menjadi persyaratan utama di pasar ekspor.

LPEI menyediakan fasilitas pembiayaan, penjaminan, asuransi, dan trade finance bisa disesuaikan dengan kebutuhan eksportir. Fasilitas ini mencakup pembiayaan pra-pengapalan (pre-shipment) dan pasca-pengapalan (post-shipment), Trade Credit Insurance (TCI) untuk penjaminan gagal bayar, dan Marine Cargo Insurance untuk memberikan perlindungan selama proses pengiriman barang.

“Penguatan rantai pasok tekstil nasional membutuhkan kolaborasi yang erat. LPEI hadir tidak hanya melalui pembiayaan, tetapi juga layanan advisory dan market insight agar eksportir semakin siap memenuhi kebutuhan pasar global,” kata Anton.

Direktur Utama PT Ungaran Sari Garments, Maniwanen, mengungkapkan dukungan LPEI telah membantu perusahaan menjaga kelancaran aktivitas ekspor sekaligus meningkatkan mitigasi risiko perdagangan internasional, terutama di bidang tekstil.

“Fasilitas LPEI sangat membantu operasional ekspor kami. Selain mengurangi beban pembiayaan, produk asuransinya juga memberikan perlindungan terhadap berbagai risiko sehingga kami lebih percaya diri dalam memperluas pasar ekspor,” ujarnya.

(ahi/ara)