INSENTIF PAJAK MOBIL, Momentum Akselerasi ASII
16 June 2021
BisnisIndonesia, Rabu, 16/06/2021 02:00 WIB
Bisnis, JAKARTA — Emiten otomotif, PT Astra International Tbk. meracik strategi untuk mengoptimalkan momentum perpanjangan relaksasi pajak penjualan barang mewah (PPnBM) terhadap mobil berukuran 1.500 cc.
Boy Kelana Soebroto, Head of Corporate Communications Astra International, menjelaskan emiten berkode ASII ini belum ada revisi target penjualan kendati pemerintah memperpanjang insentif PPnBM mobil.
Seperti diberitakan Bisnis, belum lama ini pemerintah memutuskan untuk memperpanjang kebijakan PPnBM 100% ditanggung pemerintah untuk mobil berkapasitas 1.500 cc hingga Agustus 2021. Selanjutnya, periode untuk diskon PPNBM DTP 50% diperpanjang sampai dengan Desember 2021.
Sebagaimana diketahui, relaksasi PPnBM terhadap mobil dapat mengurangi harga jual terhadap end user dan meningkatkan penjualan mobil.
“Terkait perpanjangan relaksasi PPnBM 100% di sektor otomotif, kami akan melihat lebih jauh dampaknya. Namun, tentu kami akan menyesuaikan jumlah supply mobilnya,” jelasnya kepada Bisnis, Selasa (15/6).
Dia menyebut tren penjualan mobil nasional dan mobil Astra pada 3 bulan terakhir yakni Maret, April, dan Mei 2021 kembali normal ke posisi sebelum terjadi pandemi. Menurutnya, Astra berupaya mempertahankan market share kendaraan roda empat sekitar 50%.
Di sisi lain, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menargetkan penjualan mobil nasional tahun ini sebesar 830.000 unit dengan tambahan sekitar 80.000 unit dari target sebelumnya karena insentif PPnBM.
“Semoga penjualan otomotif dapat terus membaik agar dapat mendukung pemulihan ekonomi nasional,” paparnya.
Penjualan mobil Astra pada Mei 2021, mengalami sedikit penurunan jika dibandingkan dengan April 2021. Hal ini karena adanya periode Lebaran yang membuat efektivitas penjualan dan kerja lebih rendah.
Penjualan domestik pada Mei 2021 mencapai 54.815 unit dan 7.752 unit mobil LCGC. Sementara itu, penjualan mobil Astra mencapai 28.376 unit dan 5.807 unit kendaraan LCGC.
Dengan demikian, market share Astra pada Mei 2021 mencapai 53%. Sementara, untuk kendaraan LCGC lebih tinggi dengan pangsa pasar 75%. Sepanjang tahun, Astra terus mempertahankan market share penjualan domestic di atas 50%.
Secara kumulatif, penjualan mobil non-LCGC Astra mencapai 168.905 unit sepanjang Januari—Mei 2021. Realisasi itu meningkat 25,44% dibandingkan dengan capaian 5 bulan pertama 2020 yang tercatat sebanyak 134.649 unit.
Pada perkembangan lain, PT Astra Tol Nusantara memberikan pinjaman kepada anak usahanya PT Marga Mandalasakti (MMS) pengelola tol Tangerang—Merak sebesar Rp1,39 triliun.
Kedua perusahaan tersebut merupakan perusahaan terafiliasi Grup Astra. Sebesasr 99% saham Astra Tol dimiliki oleh Astra, sedangkan 79,31% saham Marga Mandalasakti dimiliki oleh Astra Tol.
“Transaksi ini dilakukan Astra Tol dengan tujuan untuk memberikan dukungan keuangan kepada MMS, pinjaman tersebut akan digunakan oleh MMS untuk keperluan umum korporasi,” terang keterbukaan informasi, Rabu (9/6).
Bagi Astra Tol, pelaksanaan transaksi dengan anak usahanya ini akan memberikan manfaat finansial berupa adanya pendapatan bunga, sedangkan bagi MMS akan ada efisiensi administrasi dibandingkan dengan pinjaman berasal dari pihak perbankan.
Astra Tol memberikan pinjaman sebesar Rp1,39 triliun yang akan jatuh tempo pada 7 Juli 2021 dengan periode bunga 1 bulan dan suku bunganya mencapai 7%.
Pemberian pinjaman tersebut dilakukan berdasarkan perjanjian pinjaman antara Astra Tol dan MMS pada 4 Juni 2021. MMS wajib mengembalikan dana tersebut selambat-lambatnya pada 7 Juli 2021.
MMS merupakan perusahaan yang menjalankan kegiatan usaha di bidang penyelenggaraan proyek yang meliputi pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan Jalan Tol Tangerang-Merak dan jalan tol lainnya serta usaha-usaha lainnya yang berhubungan dan/atau bersangkutan dengan jalan tol.
TaK Signifikan
Analis Panin Sekuritas William Hartanto menilai meskipun pemerintah memperpanjang kebijakan pembebasan tarif PPnBM, efek signifikan terhadap industri otomotif belum akan tampak.
“Efek secara signifikan saya kira belum akan terlihat, karena masih terhadang daya beli masyarakat yang rendah,” kata William kepada Bisnis.
Kendati begitu, lanjut William, keputusan tersebut menjadi sentimen positif terhadap emiten otomotif, khususnya bagi ASII
“Memungkinkan terjadinya pertumbuhan penjualan. Karena itu rekomendasi buy dengan target harga Rp5.825,” katanya.
Dalam risetnya, analis Valbury Sekuritas Indonesia Budi Rustanto dan Devi Harjoto meningkatkan asumsi penjualan domestik roda empat menjadi 800.000 unit pada 2021 di tengah kondisi ekonomi pemulihan dan pembebasan pajak. Pada saat yang sama, proyeksi penjualan roda dua dikerek menjadi 4,5 juta unit.
Duo analis ini tetap optimistis dengan prospek ASII, didorong oleh faktor pemulihan ekonomi seiring dengan stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang longgar, produk inovatif dan diterima dengan baik, serta membaiknya harga komoditas.
Selain itu, ASII juga terdampak positif dari percepatan infrastruktur didorong oleh alokasi anggaran yang lebih tinggi, kelanjutan investasi dalam pertambangan emas dan digitalisasi, serta neraca yang kuat.
“Kami mempertahankan rekomendasi beli untuk ASII kami dengan target harga sebesar Rp6.500 per saham,” urainya.
Namun, Valbury mencatat beberapa risiko penurunan, yaitu persaingan yang ketat di pasar otomotif yang dapat mengakibatkan tekanan margin, depresiasi rupiah dan selanjutnya penurunan kualitas aset, serta harga batu bara dan CPO yang lebih lemah dari perkiraan.
Berdasarkan konsensus analis Bloomberg, 27 dari 32 analis merekomendasikan beli saham ASII, 4 analis tahan, dan 1 analis jual.
Berdasarkan konsensus tersebut, rerata target harga saham ASII dalam 12 bulan ke depan berada di level Rp6.761,18. Target itu mencerminkan potensi upside 31,28% dari harga saham ASII pada penutupan perdagangan kemarin di level Rp5.150.