REALISASI INVESTASI, Pemerintah Racik Pemanis Hulu Migas
27 April 2022
BisnisIndonesia, Rabu, 27/04/2022 02:00 WIB
Bisnis, JAKARTA — Pemerintah menyiapkan pemanis untuk menarik investasi di sektor hulu minyak dan gas bumi melalui penerapan kontrak pajak dan royalti.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tutuka Ariadji mengatakan langkah itu diambil untuk meningkatkan minat investasi pada sektor hulu Migas di dalam negeri. Adapun skema bisnis itu tengah dikaji rencana implementasinya di tengah upaya revisi UU Migas No. 22/2001 yang masih berlangsung hingga tahun ini.
“Kita malah pikirkan tahun ini dan ke depan kita sedang kaji even tax & royalty bisa enggak dan bisa kita terapkan enggak tentunya kita perlu mengubah undang-undang ,” ujarnya dalam Webinar Hukum Online, Selasa (26/4).
Tutuka berharap manuver itu dapat meningkatkan minat investor untuk menanamkan modalnya pada sektor hulu minyak dan gas bumi yang belakangan mengalami penurunan realisasi investasi selama 5 tahun terakhir. (Lihat infografik)
Dia mengakui sistem kontrak kerja sama yang berlaku saat ini belum memberikan ruang fiskal yang fleksibel dan kompetitif dari sisi tingkat pengembalian investasi (internal rate of return/IRR).
“Kita tidak cukup kompetitif dari segi indeks kompetitif dan internal rate of return akhir-akhir ini kita di bawah. Saat ini kita sedang berupaya keras untuk menjadi kompetitif, kita mulai dengan berbagai perubahan di term of condition,” katanya.
Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) menilai skema kontrak kerja sama dan investasi sektor hulu minyak dan gas tak menarik bagi investor besar. Direktur Aspermigas Moshe Rizal mengatakan skema kontrak itu berakibat pada menurunnya rata-rata realisasi nilai investasi selama 5 tahun terakhir. Menurutnya, sebagian besar investor atau perusahaan besar mulai mengalihkan perhatian mereka pada sejumlah negara dengan skema kontrak yang lebih fleksibel seperti di Guyana dan Suriname.
Dia mencontohkan realisasi produksi siap jual atau lifting migas di Guyana dari perusahaan seperti Exxon Mobil sudah mencapai 850.000 barel per hari (bph). Realisasi produksi itu lebih tinggi dari pada rata-rata produksi di Indonesia yakni 660.000 bph.
“Di Guyana ini profit sharing bukan cost recovery plus ada royalti 2%, memang Exxon mendapatkan jackpot di Guyana makanya banyak perusahaan-perusahaan seperti Total ke tetangganya seperti Suriname,” katanya.
Di sisi lain, kata Moshe, bonus tanda tangan atau signature bonus yang mesti disetor perusahaan itu ke Guyana lebih rendah dari pada porsi yang diatur di Indonesia. Dia mengatakan Exxon Mobil hanya menyetor signature bonus sebesar US$18 juta. Sementara itu, PT Pertamina (Persero) mesti membayar signature bonus mencapai US$670 juta.
“Di Guyana ini pemerintah memastikan pengembalian investasi dengan cara pemerintah bertanggung jawab membayar pajak korporasi. Itu semua dibayar oleh pemerintah jadi mereka itu luar biasa mendapatkan kontraknya,” kata dia.
Dia meminta pemerintah agar dapat memberi keluwesan terkait dengan skema kontrak dan investasi sehingga bisa turut mendongkrak produksi migas nasional.
“Kita saat ini bersaing dengan negara-negara seperti ini sekarang makanya Indonesia mesti memastikan skema kontrak atau investasinya sudah baik,” tuturnya.
OPSI
Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Reforminer Komaidi Notonegoro menilai opsi kontrak baru bisa turut mengerek realisasi investasi. Namun, perlu dipastikan porsi yang diterima investor cukup menarik. Sistem kontrak yang ada saat ini juga masih menarik bila bagian kontraktor dibuat lebih tinggi.
“Sekarang bisa saja menjadi menarik jika bagi hasil untuk KKKS ditambah misalnya, pajak tarifnya dikurangi. Jadi banyak cara untuk menarik investor dan tidak harus mengubah sistemnya,” tuturnya.
Dalam perkembangan lain, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melaporkan rasio tingkat keberhasilan eksplorasi pada kuartal I/2022 mencapai 80%. Adapun dari lima sumur eksplorasi yang selesai dibor oleh kontraktor kontrak kerja sama, sebanyak empat sumur mencatatkan status penemuan atau discovery.
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan torehan itu lebih tinggi dari penemuan sumur eksplorasi pada periode yang sama tahun lalu pada posisi 55%. Selain itu, global success ratio atau IHS pada kuartal I/2021 mencapai 23,8%.
“Ini tentu akan memberikan semangat bagi kami untuk terus menggiatkan kegiatan eksplorasi di masa mendatang, mengingat dari 128 potensi cekungan migas di Indonesia, yang sudah berproduksi baru 20 cekungan,” kata Dwi melalui siaran pers, Senin (25/4).
Lebih lanjut Dwi menambahkan total sumber daya yang dihasilkan dari empat penemuan sumur eksplorasi dengan potensi sumber daya mencapai sekitar 197 MMBOE (million barrels of oil equivalent) yang berasal dari Anambas-2X yang dioperasikan oleh Kupec Anambas, MPT-1X yang dioperasikan oleh Pertamina Hulu Mahakam, GASOP D SOUTH-1 yang dioperasikan oleh Sele Raya Merangin Dua dan SGET-001 yang dioperasikan oleh Pertamina EP.